oleh

Gilang al-Qanuni “Mengapa Harus Al-Aqsha”

*Sejarah Palestina*

Sejarah Palestina adalah sejarah yang penuh muatan, karena pada millennium ketiga sebelum masehi, banyak kabilah-kabilah Arab yang bermigrasi ke wilayah yang pada masa selanjutnya disebut Palestina ini. Sebagaimana diketahui, bangsa Fenisia adalah bangsa luhur yang asal-usulnya hingga kini belum diketahui secara pasti. Mereka adalah bangsa pertama yang bermingrasi ke wilayah ini. Mereka menetap di sana dan membangun kota-kota penting seperti Sidon dan Shur (Tirus).

Di samping bangsa Fenisia, ada kabilah-kabilah Arab yang singgah di Palestina. Kabilah-kabilah ini berdomisili di tepi Barat Yordania, di Laut Tengah di tengah wilayah Palestina. Wilayah ini dinamai dengan nama mereka, tanah Kan’an. Tanah Kan’an terdiri dari beberapa kota. Kota paling vital adalah Samaria, yang sekitar tahun 880 SM setelahnya, menjadi ibu kota kerajaan Israel.

Pada tahun 1200 SM, beberapa kelompok orang yang datang dari pulau Creta, singgah di sebuah tanjung Laut Tengah. Kelompok-kelompok ini kenal dengan Filastin. Mereka berdomisili di antara Jaffa dan Gaza, kemudian orang-orang Kan’an berbaur dengan mereka. Pada waktu selanjutnya mereka disebut orang-orang Palestina, hingga seluruh wilayah tersebut dikenal dengan nama Palestina.

Palestina berada di wilayah yang ahli kitab menyebutkan bahwa Ibrahim al-Khalil As, berhijrah ke sana. Walaupun, sebagaimana diketahui, mereka tidak menyebutkan bahwa Ibrahim hijrah karena disakiti oleh kaumnya dan mereka mencoba untuk membunuhnya, setelah ia mengajak mereka beribadah kepada Allah. Di Palestina, Ibrahim dikarunia anak bernama Ismail As, disusul kemudian Ishaq As. Ishaq ini dikarunia anak bernama Ya’qub As. Dan Ya’qub inilah yang disebut Israil yang nasab Bani Israil dihubungkan kepadanya.

Bani Israil—keturunan Ya’qub bin Ishaq As—tetap berdomisili di negeri Palestina. Mereka berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya di Palestina, sesuai kebiasaan para pengembala. Di sana, mereka menjalani kehidupan layaknya suku pedalaman, seperti yang Allah Swt kisahkan tentang Yusuf As, “Sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun.” (Q.S. Yusuf:100).

Situasi ini terus bertahan sampai akhirnya mereka berpindah ke Mesir dan menetap di sana pada masa Yusuf As. Sampai akhirnya mereka pergi meninggalkan Mesir dalam waktu yang lama bersama Musa As. Yakni setelah Allah mewahyukan kepadanya (Musa), “Pergilah pada malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), sebab pasti kamu akan dikejar.” (Q.S. Asy-Syu’ara: 52). Lalu Musa pergi bersama mereka. Penting diketahui, Allah kemudian menghukum mereka dengan at-tih (tersesat selama 40 tahun) setelah peristiwa (pengejaran) itu. Hukuman tersebut sebagai balasan atas keengganan mereka memerangi penduduk tanah suci.

Musa As sampai ke tanah Mawab di Timur Yordania. Ia naik ke puncak gunung yang berhadapan dengan gunung Yerikho, lalu melihat negeri yang Bani Israil diperintahkan untuk memasukinya. Namun Musa As wafat di tanah Mawab, dan belum memasuki tanah suci tersebut.

Musa As meninggalkan Yasu’ yang oleh kalangan ahli kitab disebut Yu’sya bin Nun. Yasu’ atau Yu’sya bin Nun dipilih oleh Musa sebelum wafat, untuk memimpin Bani Israil. Yu’sya bin Nun inilah yang membawa Bani Israil menyebrang ke tanah Kan’an—Palestina—setelah berakhirnya masa at-tih (tersesat) yang dijatuhkan kepada Bani Israil. Peristiwa ini terjadi sekitar abad XIII SM. Inilah awal mula Bani Israil menetap dan berdomisili di Palestina.

*Mengapa Harus al-Aqsha ?*

Sebutan ‘al-Quds’ untuk Kota Yerusalem memang mahsyur, sejak masa Daulah Abbasiyah hingga Ustmaniyah dokumen resmi negara pun menyebut demikian. Prof. Dr. Abd. Al-Fattah El-Awaisi, merekomendasikan agar kita menyebut Kota Yerusalem sebagai ‘Baitul Maqdis’ bukan ‘al-Quds’. Karena berdasarkan hasil penelitian, nama ‘al-Quds’ ini diberikan oleh Ahmad bin Abi Du’ad, Menteri Agung dari Mu’tazilah di masa pemerintahan al-Ma’mun ibn Harun ar-Rasyid (198-218 H/813-833 M), Daulah Abbasiyah. Sementara ‘Baitul Maqdis’ ada banyak disebut dalam hadits-hadits Nabi Saw. Menyebut ‘Baitul Maqdis’ berarti mengikuti sunnah Nabi Saw, sedangkan ‘Masjidil Aqsha’ ada di dalam ayat al-Qur’anul Karim; di surah al-Isra:1. Demikianlah, dengan menyebut ‘al-Masjidil Aqsha’ dan menyebut ‘al-Baitul Maqdis’, berarti kita telah kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw.
Sebenarnya permasalahan al-Aqsha, bukan hanya masalah agama (ketauhidan) saja tetapi juga masalah kemanusiaan. Jangankan orang beragama, yang tidak beragama saja, pasti akan tersentuh— ketika melihat penjajahan yang dilakukan oleh Zionis (Israel) kepada Palestina di zaman ini— Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa harus membebaskan al-Aqsha? Tidak ada emas, tidak ada berlian, tidak ada minyak dan sebagainya, tetapi kenapa kita semua mau berkorban untuknya? Nabi Daud As dan Nabi Sulaiman As ketika menguasai al-Aqsha mereka mampu menguasai dunia. Romawi, ketika menguasai al-Aqsha, mereka menguasai dunia, Muslim juga ketika menguasai al-Aqsha, mereka bisa menguasai dunia. Lantas, sekarang Zionis yang menguasai dunia, sebab telah menguasai al-Aqsha.
Dan sungguh benar, firman Allah Swt. “…Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya…. ” (Q.S. al-Isra:1). Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an menafsirkan ayat tersebut, bahwa ayat tersebut merupakan gambaran yang menggariskan keberkahan yang menyelimuti masjid dan melimpah darinya. Ini adalah naungan yang tidak mungkin bisa dilontarkan oleh ungkapan langsung, seperti “Kami memberkahinya” atau “Kami memberikan berkah di dalamnya” dan ini merupakan kecermatan ungkapan al-Qur’an yang mengagumkan.
Teringat juga, ketika Shalahuddin al-Ayyubi setelah membebaskan al-Aqsha, selama 90 tahun lamanya di tangan Pasukan Salib. Saat itu Kaum Muslimin melaksanakan shalat jum’at yang pertama, masjid begitu sesak dan mereka tidak kuasa menahan haru. Shalahuddin meminta Ibnu az-Zaki asy-Syafi’i untuk menyampaikan khutbah jum’at. Setelah Ibnu Zaki memulai khutbahnya dengan memuji Allah Swt, kemudian berkata, “Allah memberikan kemudahan untuk merebut kembali Baitul Maqdis yang memiliki begitu banyak keistimewaan dan kelebihan; bahwa Baitul maqdis merupakan kiblat pertama, masjid kedua (setelah Masjidil Haram), dan tanah suci ketiga (setelah Makkah dan Madinah). Baitul Maqdis menjadi tempat penghimpunan (mahsyar) dan pemisahan (mansyar) bagi seluruh manusia di hari kiamat. Dia merupakan tempat tinggal para Nabi dan tujuan para wali.” Begitulah tercatat dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, karya Ibnu Katsir.

Mengapa al-Aqsha begitu berharga, dan mengapa harus ia yang menjadi simbol yang diperebutkan banyak kekuatan di dunia? Menurut Syekh Ali Muqbil, “Siapa yang menguasai Palestina, maka ia akan menguasai dunia.” Menyelamatkan al-Aqsha berarti menyelamatkan dunia, penjajahan al-Aqsha berarti penjajahan dunia. Bangkitnya al-Aqsha (Syam) menjadi tolak ukur kebangkitan Islam. Ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan ditanya, “Wahai Amirul Mikminin, mengapa Qubbah as-Sakhrah kau tulis di sekelilingnya dengan surah Yasin?” Beliau menjawab, “Sebagaimana Yasin adalah jantung al-Qur’an, maka al-Aqsha adalah jantung Umat Islam!”

Menurut Syekh Said Ramadan al-Buthy dalam Fiqh Sirah, peristiwa ini menunjukkan bahwa Kaum Muslimin seharusnya selalu menjaga dan melindungi tanah al-Aqsha dari keserakahan musuh-musuh agama. Seolah-olah hikmah ilahi mengingatkan Kaum Muslimin zaman sekarang untuk tidak menyerah dan mengalah, tidak gentar, dan pantang mundur menghadapi permusuhan Yahudi terhadap tanah suci ini, dan agar membersihkannya dari najis mereka, serta mengembalikan kepada pemilik sahnya; kaum beriman.

Sedangkan menurut Syekh Muhammad al-Ghazali dalam Fiqhus Sirah, hal ini mengingatkan kita agar mau kembali pada sejarah yang lalu. Yakni selama kurun waktu yang teramat panjang, masalah kenabian selalu di tangan Bani Israil dan Baitul Maqdis sebagai medan turunnya wahyu, tempat sumber cahaya dan menjadi tanah air tercinta bagi bangsa pilihan Tuhan. Memang benar, kalau kita lihat jumlah para Nabi, yakni 124.000, hampir sebagian besar berasal dari Bani Israil. Mungkin faktor inilah yang membuat mereka ingin merebut kembali Palestina.

Lain lagi menurut Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam as-Sirah an-Nabawiyyah, urgensi Masjid al-Aqsha bagi Kaum Muslimin. Ia merupakan tempat Isra’ Rasulullah dan titik tolak untuk Mi’raj beliau ke langit. Dan ia pula yang menjadi kiblat Kaum Muslimin selama fase Makkah. Maka dengan demikian, ini merupakan sebuah arahan bagi Kaum Muslimin untuk senantiasa mencintai Masjidil Aqsha dan Palestina, karena ia merupakan tempat yang suci dan diberkahi.

Keterkaitan antara keduanya (Masjidil Haram dan Masjidil al-Aqsha) akan menimbulkan rasa tanggung jawab Kaum Muslimin terhadap Masjidil Aqsha, pembebasannya dari segala cengkraman kemusyirikan dan keyakinan paganis. Sebagaimana tanggung jawab mereka untuk senantiasa memelihara Masjidil Haram dan membebaskannya dari segala bahaya kemusyirikan dan penyembahan berhala.

Keterkaitan ini juga mengingatkan bahwa ancaman terhadap Masjidil al-Aqsha sama halnya dengan ancaman terhadap Masjidil Haram dan penduduk negerinya. Dan perbuatan buruk yang dilakukan terhadap Masjidil Aqsha sama halnya dengan perlakuan buruk terhadap Masjidil Haram. Masjidil Aqsha ibarat gerbang untuk menuju Masjidil Haram. Maka dengan keberadaan Masjidil Aqsha di bawah cengkraman Yahudi, mengindikasikan bahwa keberadaan Masjidil Haram dan Tanah Hijaz sudah terancam keamanannya, dan pandangan musuh sudah semakin fokus untuk mencaplok keduanya.

Para sahabat menjadi semakin mengenal tentang pentingnya kedudukan Masjidil Aqsha. Selama ini masjid tersebut berada di bawah kekuasaan imperium Romawi, lalu mereka, para sahabat, membebaskannya pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Dalam kurun waktu pasca pembebasan tersebut, wilayah al-Aqsha hidup dalam kedamaian dan keamanan, hingga akhirnya datanglah Tentara Salib membawa kerusakan, lima abad setelah hijrah Rasulullah Saw. Di sana mereka berkuasa hampir satu abad dengan menebar kerusakan. Hingga akhirnya Kaum Muslimin kembali berhasil merebutnya dengan kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi. Dan kini, wilayah tersebut kembali dikuasai oleh Kaum Yahudi yang mendudukinya. Maka dengan cara apa kini kita akan membebaskannya? Jalan untuk membebaskannya adalah jihad di jalan Allah, tentu saja dengan metode dan cara yang dahulu telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah.

*Strategi Pembebasan*

Cara pembebasan Palestina dari genggaman Yahudi terdapat dalam surah al-Hasyr, surah ini turun untuk kaum Yahudi. Menurut, Dr. Raghib as-Sirjani, ahli sejarah asal Mesir dalam wawancaranya ditanya mengenai ini, jawaban beliau bahwa pembebasan Palestina memberikan gambaran; pertama, Shalahuddin al-Ayyubi mengalahkan kaum Syiah terlebih dahulu, baru kemudian masuk ke al-Aqsha (Palestina). Menurutnya, tidak mesti mengalahkan Syiah terlebih dahulu, akan tetapi jika memungkinkan untuk melawan Syiah lebih dahulu, maka itu lebih baik. kedua, dua penglima pembebas al-Aqsha; Umar bin Khattab dan Shalahuddin al-Ayyubi. Kedua panglima ini menggunakan Suriah dan Mesir sebagai pintu gerbang untuk membebaskan Palestina.
Menurut hemat penulis, kalau kita lihat peta, posisi Palestina memang diapit oleh Suriah dan Mesir yang disebut sebagai Negeri Kinanah; Allah akan mengeluarkan para mujahidin—ibarat seperti kedua sayap burung—jika keduanya telah dibebaskan, berarti tinggal badannya (Palestina) yang menggerakkan kedua sayapnya untuk segera terbang. Sehingga membuang para penjajah yang mengotori sekian lama Palestina. Dan yang menjadi pelajaran buat kita, bahwa Umar bin Khattab berasal dari Makkah dan berpindah ke Madinah, dan Shalahuddin al-Ayyubi berasal dari Iraq dan berpindah ke Suriah. Dua-duanya bukan berasal dari Palestina. Sehingga tidak heran, jika orang-orang Palestina dengan lapang hati berkata, “Kami menjaga Palestina, agar bumi Muslimin ini tidak hilang, karena yang membebaskan bumi Palestina ini bukanlah kami. Dalam sejarahnya; Palestina di buka oleh dua orang (Umar bin Khattab dan Shalahuddin al-Ayyubi) yang bukan berasal dari Palestina.

Dalam buku Model Kebangkitan Umat Islam;Upaya 50 Tahun Gerakan Pendidikan Melahirkan Generasi Shalahuddin dan Merebut Palestina, karya Dr. Majid Irsan al-Kilani. Kita memiliki kebutuhan yang sangat mendesak yaitu membangun strategi yang tepat untuk merekrut ratusan bahkan ribuan Ulul Albab yang pernah meraih rangking-rangking teratas selama masa belajarnya dan berhasil lulus dari jenjang sekolah menengah dengan nilai kelulusan lebih dari 95%, lalu mempersiapkan dan mendidik mereka untuk menjadi dua grup. Grup pertama, menjadi elit intelektual yang berkonsentrasi di berbagai pusat kajian dan riset untuk memikirkan semua permasalahan dunia Islam dan memahami aturan-aturan (qanun/sunnah) Allah yang berkenaan dengan bangkit dan jatuhnya peradaban manusia. Sementara grup kedua, memegang kendali politik yang meramu aturan-aturan Allah tersebut menjadi berbagai kebijakan, perencanaan, dan strategis praktis. Dengan demikian seluruh potensi dan institusi akan bersinergi dan saling melengkapi, lalu muncullah generasi baru Shalahuddin al-Ayyubi dan Kota al-Aqsha pun dapat direbut kembali.

Tajuk Utama Video

banner 728x80
banner 728x80
banner 728x80
banner 728x80
banner 728x80
banner 728x80
banner 728x80
banner 728x80
banner 728x80
banner 728x80
banner 728x80
banner 728x80
banner 728x80
banner 728x80
banner 728x80
banner 728x80