oleh

Harga Anjlok, Petani Sayur Kabupaten Karo Menjerit

Tajuk Utama, Karo — Petani sayuran di sentra Kecamatan Simpang Empat, Merek, Tigapanah dan Dolatrayat, Kabupaten Simalungun serta Dairi  mengeluhkan anjloknya harga sayuran akibat permainan tengkulak

Dampak dari anjloknya harga komoditas sayuran andalan petani seperti kol (kubis), sawi putih, wortel, tomat dan jeruk itu menyebabkan para petani merugi jutaan rupiah, dari hasil panen yang tidak sebanding dengan biaya operasional yang mereka keluarkan.

Harta Tarigan  (55), salah seorang petani wortel di Desa Ndokum Siroga  Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo, Minggu (15/09/2019) menuturkan bahwa saat ini para petani sayuran di Kecamatan Simpang Empat sedang merana akibat anjloknya harga hampir semua komoditi sayuran.

Dia mencontohkan, harga kol ditingkat petani hanya Rp 700 / kg , Sawi putih Rp 800 sampai Rp500 / Kg, sawi pahit Rp1.000/Kg, Tomat Rp 800/kg Kemudian wartel Rp 800/ kg dan jeruk Rp 4500 ribu/Kg.

Hal yang sama juga diungkapkan Maryono Girsang (43) Petani Desa Merek Kecamatan Merek , Kabupaten Karo ini juga mengaku sudah tiga bulan semua harga komoditi sayuran yang ditanam oleh mayoritas petani di Kecamatan Merek, terjun bebas (anjlok).

“Saat bulan April 2019, kami berpikir anjloknya komoditi sayuran ini karena musim hujan, dan stok melimpah. Tetapi kok sampai sekarang memasuki kemarau, harganya tambah hancur,” katanya.

Menurut Maryono, sesungguhnya ribuan kepala keluarga yang menggantungkan hidupnya dari bertani sayuran ini sadar, jika anjloknya harga komoditi sayuran itu akibat permainan tengkulak. Mereka menyadari selama ini harga komoditi sayuran masih dikendalikan oleh tengkulak, sehingga sering merugikan mereka.

“Pengaruh para tengkulak ini sangat kuat, sehingga soal hargapun sepenuhnya ditentukan mereka (tengkulak). Sehingga keuntungan petani terbatas, sementara tengkulak untung besar,” katanya.

Sementara, Herman Ginting  (51) petani sayur Desa Sinaman kecamatan Tigapanah Kabupaten Karo mengatakan, selama ini para petani yang mengembangkan budidaya sayuran, sulit menjual hasil panennya ke pasar. Karena mereka sudah terikat oleh para tengkulak.

“Bagaimana tidak, selama ini petani sudah pinjam uang, sampai kebutuhan bibit, pupuk dan obat-obatan semuanya dari tengkulak. Ya otomatis, pas panen harus dijual ke tengkulak,” ujarnya. (Surbakti)

banner 728x80
banner 728x80

News Feed