‘Bahaya Radikalisme Terhadap Pemilu 2019’ Puspera Sulsel Diskusi Kebangsaan

GOWA, Tajuk Utama — Pusat Pendidikan dan Pembelaan Rakyat ( PUSPERA ) Sulawesi selatan melaksanakan kegiatan Diskusi Kebangsaan dengan tema ‘Bahaya Radikalisme terhadap Pemilu 2019?’ di New Tosil Cafe & Resto Gowa, Sabtu (23/2/2019).

Dihadir narasumber pengamat sosial politik Ahmad Pidris Zain  selaku Keynote Speaker, Fauzi Ahmad Abdillah ( Akademisi dari Unhas ) dan Imran Arsyad ( Ketua GP Anshor Gowa ) Serta dipandu oleh Muallim Bahar SH ( Direktur Eksekutif Puspera Sulsel ) sebagai moderator perwakilan dari Media Ketua GOWA-MO.

Menurut Muallim Bahar, SH direktur eksekutif PUSPERA mengatakan bahwa pembubaran kelompok HTI berdasarkan putusan pengadilan yang di anggap mengorganisir paham radikal sebab, tokoh-tokoh dan pelaku HTI/eks HTI itu banyak menjamur masuk ke dalam partai-partai yang mengatasnamakan Islam, termasuk fakta ke gerakan 212 yang mengatasnamakan Jihad Islam dengan nafsu kekuasaan.

“ini sudah jelas dan Nampak ketika pembubaran HTI itu banyak partai-partai yang mengatasnamakan jihad Islam memiliki motif politik, meskipun bernuansa keagamaan Dan ini politik umat Islam, dan umat Islam sekarang ingin berkuasa melalui jalur-jalur konstitusional, melalui pemilu, melalui pilkada dan melalui pilpres”Ucapnya

Ia berharap bahwa pemerintah hari ini tidak boleh tinggal diam dalam pencegahan maupun penindakan proses penjamuran faham-faham radikal di bangsa kita.

Menurut Sulaeman sebagai Ketua Pegiat Demokrasi Sulsel bahwa radikal itu sah sah saja dalam dunia demokrasi karena posisi nya sebagai penentang atau biasa disebut dengan opisisi sehingga perjalanan demokrasi berlangsung baik jikalau paham itu sesuai dengan ide dan gagasan yang substantif.

“itu sudah wajar saja dalam Demokrasi karena Statement mereka biasanya memberikan pemikiran yang sangat Substantif, Tapi dalam konteks menjelang pemilu ada aroma kelompok tertentu menggunakan yang tidak sebagaimna mestinya hingga saya menyimpulkan bahwa radikal itu baik bahkan ia sperti fiksi tapi buruk dalam realitas”, kata Sulaeman.

Selain itu, Nursyam Apriansyah ketua panitia sekaligus komisi kajian issu dan strategi puspera menjelaskan Yang mendasari kami mengangkat tema ini adalah kondisi bangsa hari ini yang boleh di kata berada di ujung tanduk kekacauan akibat dari faham radikal yang menjamur ditengah masyarakat termasuk kedalam sistem kepartaian, khususnya partai-partai oposis demi merebut kekuasaan, sebab dari radikalismelah hoax itu tercipta, teroris itu ada.

“kondisi ini tentu mengkhawatirkan mengingat banyaknya Partai oposisi ingin merebut kekuasaan, Paradigma dari partai tersebut biasanya tercipta Hoax yang bisa menimbulkan Radikalisme, Oleh karena itu muncullah ide tema tersebut, juga termasuk ingin mengantarkan kepada masyarakat luas agar lebih paham terhadap radikalisme itu, membawa pembahasan ini masuk kedalam ruang-ruang akademik agar menciptakan pandangan yang objektif terhadap problematika” ujar

Kegiatan tersebut dapat disimpulan bahwa sepakat atas kajian dan alasan-alasan rasional bahwa radikalisme itu berbahaya baik sebelum pemilu 2019 apalagi pasca pemilu 2019, dan yang menjadi sasaran utama kelompok-kelompok radikal adalah partai yang melabelkan dirinya Islam, sebut saja PKS yang hari ini berada pada kubu oposisi pada pemilu 2019 hari yang disusupi oleh kelompok Radikal. Termasuk produksi hoax dan ancaman terorisme yang akan mengadang pemilu 2019.

Besar harapan kami bahwa oposisi hari ini yang ada pada konteks pemilu 2019 harus memeriksa diri masing-masing dalam kubu apakah ada penyusup yang akan medorong konstitusi negara kita yang berdasarkan pancasila yang sudah final itu, yang pada prinsipnya bercerita tentang histori panjang tentang faham radikal bahwa mereka semua berada pada grup oposisi yang menginginkan sistem ini di ganti sesuai sistem mereka demi kekuasaan yang mereka ingin capai.

“harapan kami dari Partai Oposisi yang ikut dalam Pemilihan harus interopeksi diri secara Internal agar tidak ada penyusup sehingga nanti pemilihan berdasarkan Landasan Pancasila” Harapnya Apriansyah ketua panitia sekaligus komisi kajian issu dan strategi puspera. (*)