2019 : Persatuan, Kerukunan dan Persaudaraan

TAHUN BARU adalah hari peringatan yang biasa dilakukan masyarakat untuk memperingati datangnya tahun baru yang menggantikan tahun lama. Mereka telah melewati masa satu tahun dan akan memulai tahun yang baru. Tahun baru di Indonesia diperingati setiap tanggal 1 Januari karena Indonesia menggunakan kalender Gregorian.

Perayaan tahun baru Masehi biasanya dirayakan sangat meriah bahkan ada yang sengaja melupakan sejenak persoalan hidup yang berat untuk sekedar merayakan pergantian tahun: old and new. Tradisi yang dilakukan selalu rutin: meniup terompet dan menyalakan kembang api pada saat detik jarum jam tepat di angka 12 atau pada jam digital menunjukkan kombinasi angka “00.00”.

FAJAR Tahun Baru 2019 sebentar lagi menyambut dan usia kita menyusut. Akhir tahun tentu menjadi momen berharga untuk sebentar menyingkir istirah merefleksikan seluruh peristiwa yang dialami sepanjang 2018. Harapannya masa depan kebaikan bisa berlipat dan segenap kejelekan selamanya istirahat.

Silam sebagai titik pijak agar langkah kita tidak terperosok ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Karena bukan keledai, kita dituntut punya kesanggupan memaknai sejarah masa lalu sekaligus cermat membangun riwayat masa depan. Masa lalu adalah bagian dari sejarah hidup kita yang harus kita jadikan pelajaran untuk dimasa yang akan datang.

Dengan demikian, kita perlu belajar dari masa lalu untuk mengintrospeksi diri, karena kesadaran untuk belajar dari masa lalu dapat mengantar kepada perbaikan dan peningkatan kualitas diri. Maka kita patut bertanya kepada diri masing-masing; Sudahkah benar-benar bertakwa kepada Tuhan dan menjauhi larangan-Nya? Bersikap baik dan santun kepada siapa pun tanpa memandang status sosialnya? Sudahkah mempersiapkan pendidikan anak bangsa secara baik dan membentengi mereka dengan pengetahuan agama? Bagaimana dengan nasib pasangan dan anak-anak kita, dapatkah mereka hidup mandiri sekiranya kita lebih awal dipanggil oleh Yang Maha Kuasa? Kemudian ibadah yang selama ini kita lakukan, sudahkah murni niatnya karena Tuhan? Atau hanya sebatas formalitas belaka karena ingin diterima sebagai menantu? Atau karena ingin mendapat simpati dari masyarakat, sehingga niat untuk menduduki kursi dan jabatan tertentu menjadi mulus?

Aset Terbesar Indonesia
Kita patut bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa bangsa kita Indonesia dianugerahi beragam perbedaan bukanlah menjadi sumber perpecahan bangsa, justru menjadi potensi besar untuk menambah kekuatan bangsa ini kepada negara lain. Kita melihat memang ada keberagaman dan perbedaan. Tetapi ini bukanlah sumber perpecahan tetapi ini potensi besar kekuatan bangsa kita kita Indonesia.

Tuhan yang Maha Esa menganugerahi kita semua dengan rasa persaudaraan yang tinggi, dengan cinta kasih yang tinggi. Dengan rasa persahabatan yang tinggi. Sebagai aset terbesar bangsa kita Indonesia. Aset terbesar bangsa ini adalah persatuan. Aset terbesar bangsa ini adalah kerukunan. Aset terbesar bangsa ini adalah persaudaraan. Dan persatuan itu bersumber dari keberagaman bangsa kita Indonesia adalah kekuatan kita yang tidak mudah dikalahkan oleh siapapun.

Kita telah dianugerahi dengan keberagaman yang luar biasa. Penduduk di negara kita sekarang sudah mencapai 260 juta yang hidup di 17 ribu pulau yang kita miliki. Ada 34 provinsi dan 514 Kabupaten/ kota yang kita miliki dianugerahi oleh tuhan yang Maha Esa. Perbedaan- perbedaan, majemuk, beragam, warna – warni. Kita tahu itu semuanya beda suku, beda agama, beda adat, beda tradisi, beda bahasa daerah.

Keberagaman dan persatuan harus terus tetap kita jaga, terus kita rawat, dan terus kita syukuri dengan saling menghormati dan menghargai, saling membantu dan mengasihi. Dengan segala kerendahan mari kita tundukkan kepala dan berdoa atas berbagai peristiwa bencana alam dan tsunami yang menimpa saudara-saudari kita di NTB,Palu,Donggala,Banten dan Lampung.

2019 merupakan tahun politik bagi bangsa Indonesia, dimana bangsa kita Indonesia akan merayakan pesta demokrasi yaitu Pemilihan Umum secara bersamaan, baik Pemilihan Presiden, DPR RI, DPD RI,DPRD Provinsi,dan DPRD Kab/Kota dari sabang sampai merauke. Dalam pesta demokrasi ini yang harus kita rayakan bukan politik kebencian, pelintiran hoax, dan politisasi SARA, melainkan politik yang ditancapkan di atas keluhuran nalar (Raymond Williams), kekukuhan menjunjung nilai universal (Kant), menghormati daya imajinasi kreatif (Schiller), dan menjadikan gotong royong (Bung Karno) serta periketuhanan (M Yamin) sebagai oksigen politik kebudayaan kita.

Dalam perayaan Natal Nasional Tahun 2018, Presiden Republik Indonesia, Bapak Ir.Joko Widodo berpesan: berbahagialah orang yang mendapat hikmat, keuntungannnya melebihi emas dan perak serta lebih berharga dari permata. Dengan hikmat semua bangsa Indonesia sama – sama bekerja membangun negara indonesia demi kemajuan di masa mendatang. “Dengan hikmat kita saling membantu anak bangsa.

Dengan hikmat kita persiapkan masa depan anak kita menjadi manusia – manusia yang unggul dan berakhlak mulia. Dengan hikmat kita terus dan harus memluk yang miskin, memeluk yang kecil, memeluk yang lemah, dan memeluk yang membutuhkan. Dengan hikmat kita hadirkan keadilan sosial di seluruh penjuru tanah air. Dengan hikmat kita majukan negara kita Indonesia,”.

Selamat Tahun Baru 2019 saudara/I sebangsa dan setanah air Indonesia. Semoga keberkahan, mengedepankan kedalaman akal sehat dan adab juga kedamaian menjadi nafas bangsa Indonesia ini. Seperti ada tertulis “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”(Yeremia 29:11). Dimana ada sirunggu,disitu ada si tata,dimana kita pun duduk,disitu ada Tuhan Yang Maha Esa juga. Tuhan Memberkati Kita Sekalian.

Jekoniah Tarigan
Permata GBKP dan Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara